undang-undang sisdiknas (09-03-10)

05.19 Edit This 0 Comments »
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

UU Sisdiknas No. 2 Tahun 1989 -> UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 -> 22 Bab 77 pasal


Sistem pendidikan nasional adalah
keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.



DASAR, FUNGSI, DAN TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL:

Dasar :
Pancasila dan UUD Negara RI Tahun 1945

Fungsi :
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa

Tujuan :
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.



PRINSIP PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

>Demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif.

>Sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna.

>Sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.

>Memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.

>Mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.

>Memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.



Jalur, Jenjang, dan Jenis Pendidikan:

Jalur: Formal, Nonformal, dan Informal

Jenjang: Pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

Jenis: pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus



KOMPONEN PENDIDIKAN:
> Kurikulum

>Tujuan

>Tenaga Kependidikan

>Peserta didik

>Sarana dan Prasarana

>Manajemen

>Keuangan

perkuliahan 02-03-10

05.09 Edit This 0 Comments »
Konsep Dasar Profesi Kependidikan

Ω Profesional
Orang yang professional dapat mengerjakan suatu pekerjaan dengan baik dan dapat memuaskan orang lain. Ia melakukan suatu pekerjaan pokok, bukan sekedar mengisi waktu luang

Ω Profesi
Profesi adalah suatu pekerjaan yang dilakukan oleh pelaku atas dasar suatu janji public dan sumpah bahwa mereka akan mengerjakan tugas sebagaimana mestinya

Ω Profesionalisme
Profesionalisme adalah sikap dari seorang professional, sebuah pandangan untuk selalu berpikir, bersikap, dan bekerja dengan sungguh-sungguh, kerja keras, sepenuh waktu, dan loyalitas tinggi serta penuh dedikasi untuk menyelesaikan pekerjaan

Ω Professor
Professor adalah pangkat akademik bagi seorang dosen yang telah memiliki cum 900-1000, untuk suatu bidang

Ω Ciri profesi
1. melaksanakan pekerjaan secara purnawaktu
2. didasarkan panggilan hidup, terikat norma dan aturan
3. memiliki derajat otonomi tinggi
4. melakukan pengembangan diri
5. memiliki kode etik

Ω Jabatan Profesi
1. melibatkan kegiatan intelektual
2. menekuni suatu ilmu tertentu
3. didahului persiapan yang lama / melalui pendidikan formal
4. memerlukan pelatihan jabatan
5. menjanjikan karir permanent bagi pemegangnya
6. memiliki standar baku tersendiri
7. mementingkan layanan pada masyarakat
8. memiliki organisassi profesi

Ω Tenaga Kependidikan
Tenaga Kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Mereka bertugas untuk melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan

Ω Kode etik Profesi
Kode etik profesi adalah nilai atau norma aturan yang harus dipenuhi seorang yang professional terhadap bidang profesinya. Kode etik profesi bertujuan:
1. menunjang tinggi martabat profesi
2. menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota

Ω Sasaran sikap Profesional
1. peraturan perundang-undangan
2. organisasi profesi
3. teman sejawat
4. anak didik
5. tempat kerja
6. pemimpin
7. pekerjaan





Manajemen Mutu Berbasis Sekolah

Ω Latar Belakang
1. pendidikan menghadapi kondisi masyarakat yang berubah
2. perubahan social politik dan aspirasi masyarakat
3. perubahan pemerintahan
4. UU Sisdiknas

Ω Pengertian
Bentuk otonomi manajemen pendidikan, kewenangan ada pada kepala sekolah / madrasah dan guru dibantu oleh komite sekolah / madrasah dalam mengelola kegiatan pendidikan

Ω Tujuan
1. mencapai mutu dan relevansi, dengan tolok ukur pada hasil (output dan outcome)
2. menjamin keadilan layanan pendidikan bagi setiap anak
3. meningkatkan efektifitas dan efisiensi
4. meningkatkan akuntabilitas sekolah dan komitmen ‘shake-holders”

Ω Elemen-elemen Pokok
1. pemberian kewenangan kepada kepala sekolah / madrasah untuk mengambil keputusan mengenai pengelolaan pendidikan di sekolah yang bersangkutan
2. penerima kewenangan bukan KS/M seorang diri, tetapi secara kolektif
3. pengambilan keputusan dan kepemimpinan bersifat partisipatif dan demokratis
4. pemberian kewenangan disertai sumber daya pendidikan
5. ada parameter
6. ada akuntabilitas kepada berbagai pihak

Ω Konsep Mutu
1. absolute
2. standar
3. kepuasan pelanggan/ pengguna jasa pendidikan

Ω Elemen penting MMT sebagai bagian dari strategi MMBS/M
1. konsep mutu
2. peningkatan mutu secara berkelanjutan
3. kepuasan jasa pengguna pendidikan
4. ada visi, misi, “bench-mark”
5. akuntabilitas kepada semua stakeholder

Trend Masa Kini dan Masa Depan (16-02-10)

03.12 Edit This 0 Comments »
>>Kompetitif
adanya kesenjangan antara supply dan demand. untuk bisa memenangkan kompetisi, seseorang harus melakukan usaha, memiliki kemampuan, strategi, dan etika berkompetisi.

>>Transparan

>>Spesialis

>>pRofesional
ciri-ciri profesional:
1. dapat memberi kepuasan bagi pelanggannya
2. menghabiskan sebagian besar waktunya untuk pekerjaannya
3. mengembangkan kemampuan dirinya terutama di bidang keahlian/ pekerjaannya
4. mendapat penghasilan dari apa yang dikerjakan

>>Dinamis
1. inventing (menemukan hal baru)
untuk menemukan hal baru, seseorang perlu melanggar peraturan (breaking rules)
2. experimenting (by making mistakes)
3. growing (by taking risks)

>>Adaptif
orang yang pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan akan lebih mudah berhasil dalam bidangnya

10.30 Edit This 1 Comment »
multiple intelligences




gaya2an ngepost experimental report :P

16.01 Edit This 0 Comments »
bismillahirohmanirohiiiiiim...

bingung ni mau nulis apa sebenernya,,tapi daripada blognya kosong melompong jelek banget jadi mau ga mau ya harus mulai rajin posting deh. berhubung saya anak kimia, jadi postingan kali ini ga jauh-jauh dari yang namanya kimia....which is....LAPORAN PRAKTIKUM!!! JENG JENG!

Biar rada gaya and eksyen2 dikit,,laporan yang diposting pake basa inggris aja deh :P




Experimental Report

REDOX AND ELECTROCHEMICAL REACTION









By:
Devy Rohmah Yanti
33150818885

Chemistry Laboratory
Faculty of Mathematics and Science
State University of Jakarta
2009

Redox and Electrochemical Reaction


Purpose
1. to study Eo’s of the selected half reaction
2. to determine the electro motif force between CuSO4 and SnCl2
3. to understand the concept of electrochemical-cell and electrolysis
4. to know the factors that influence electrolysis process


Theory
A metal strip in equilibrium with an aqueous solution of its cations constitutes an electrochemical half-cell. This equilibrium can be represented as:

The tendency for the metal atom to undergo oxidation in aqueous salution is measured by its oxidation potential. When the cation concentration is 1-molal (one mol of ions per 1000 grams of water) at 250C, the potential measured is called the standard oxidation potential (E0) for the half-cell. The table Standard Oxidation Potentials list some common half-cells and their potentials.
The magnitude of E0 indicates the tendency for the oxidation reaction to occur. A large positive potential indicates that the oxidation process has a grater tendency to occur than does the reduction process. Since half-cell reaction are in the state of equilibrium , their behavior is governed by the principles of chemical equilibrium.
When two half-cells of different oxidation potentials are connected, the equilibrium in each half-cell becomes unbalanced. Such an arrangement constitutes an electrochemical cell.
The half cell with the grater oxidation potential will become the anode. Electrons will flow from this half-cell through the connecting wires to the other electrode, the cathode. The total umber of electron lost at the anode will exactly the same as the total number of electrons gained at the cathode.
During oxidation, the positive charges in the solution increase, and the positive charges in the solution decrease.
When doing electrochemical reaction, it is important to use the salt bridge. Salt bridge is provided so that ions can travel from one half-cell to another one.


Equipments and Chemicals needed
Equipments:
1. 250-ml beaker glass
2. salt bridge
3. graduated cylinder
4. voltmeter
5. wire leads
6. test tube
7. medicine drops
8. U-tube
Materials:
1. 0.5 and 1M ZnSO4
2. 0.5 and 1M SnCl2
3. 0.5 and 1M CuSO4
4. Zinc, Lead, Copper, Stan metal strips
5. 0.5 M KI
6. Electrode Carbon
7. PP Indicator
8. Amilum indicator
9. Na2S


Procedure
• Determination of Electromotive force
1. Make Zn half-cell by putting a Zinc metal strip into ZnSO4 aqueous
2. Make Cu half-reaction by putting a Cu metal strip into CuSO4 aqueous
3. Connect both half reaction as manner bellow:








4. Repeat step 1-3, but change the half reaction cell by: Sn and Cu
5. Repeat step 1-3, but change the concentration of the aqueous solution by 1M
6. Record the value that shown by the voltmeter
• Electrolysis of KI aqueous
1. Fill a U-tube with KI aqueous
2. Place carbon electrode into it and connect with battery
3. Add 3 drops of amilum indicator on the anode side, and PP on the cathode side
4. Watch carefully the reaction occur


Report Sheet
• Determination of Electromotive force
1. using Cu(s)
Cu2+ (0.5 M)= 0.5 volt
2. using Cu(s)
Cu2+ (0.5 M)= 0.3 volt
3. using Cu(s)
Cu2+ (1M)= 0.6 volt
After Na2S added : produced stink smell
• Electrolysis of KI
1. Anode: the color of aqueous turn to yellow, smell’s like a betadine antiseptic, added by amillum the color turn to saturated brown
2. Cathode: produce much bubble air, added by PP make the color turn to violet


Analysis
At the determination of electromotive force experiment, Zn metal strip is put into ZnSO4 aqueous and Cu metal strip is put into CuSO4 aqueous, with each concentration is 0.5 M. Electromotive force is produced but the difference between both half-cell. Cu electrode is used as cation, because Cu has bigger reduction potential than Zn. So the reaction can occur spontaneously. It can be seen from the value of Emf, which shows positive value. If the position is changed, Zn as the cation and Cu as the anion, the reaction wont occur. Reaction also can’t be done if Cu is placed into the ZnSO4 aqueous, and vice versa. It is because Cu is more electronegative than Zn. In other words, Cu can keep electrons firmer than Zn, so that Cu can ionize to Cu2+. On the other hand, Zn2+ that comes from ZnSO4 aqueous cant catch electron, so that the redox reaction wont happen.
Based on reaction bellow:

The weight of Cu is getting bigger because of Cu precipitation is formed. It is known as “penyepuhan”.
Based on calculation, E0cell for the reaction above is +1.10. but it is different with the E cell based on the experiment, which is +0.5.
At the second experiment, electrode Sn is put into SnCl2 and Cu in CuSO4 with concentration of each aqueous is 0.5 M. just the same as the previous experiment, Cu is placed as anode, and Sn as cathode because the potential electrode of Cu is bigger than Sn. The reaction between both electrode is shown bellow:


Based on the calculation, the E0cell of the reaction is +0.48 volt. But based on the experiment, it is +0.3 volt.
The third experiment is almost the same as the previous experiments, but one different thing is the concentration used in the experiment. Each of the aqueous has mollarity 1 M. based on experiment, it can produce bigger E0cell than the previous experiment.
The difference value of E0cell between experimental and calculation is because the gel inside salt bridge isn’t fulfilled. So that the ion can’t travel well from one half-cell to the other. It can be happen also because the cathode has oxidized by oxygen and water so it is corroted.

At the electrolysis experiment, anode space change its color to yellow, which is getting saturated at the bottom of the u tube. it also produce iodine smell which can be recognize as the smell of betadine. Meanwhile in the cathode space, there isn’t any color changing, but it produce much air bubble, it is H2 gas. Reaction that occurs in this experiment is:






Conclusion
1. When the cation concentration is 1-molal (one mol of ions per 1000 grams of water) at 250C, the potential measured is called the standard oxidation potential (E0) for the half-cell
2. A large positive potential indicates that the oxidation process has a grater tendency to occur than does the reduction process
3. During oxidation, the positive charges in the solution increase, and the positive charges in the solution decrease
4. Cu electrode is used as cation, because Cu has bigger reduction potential than Zn
5. Reaction at the first experiment is:

8. Based on the calculation, the E0cell of the reaction is +0.48 volt. But based on the experiment, it is +0.3 volt.
9. at the second experiment, Cu is placed as anode, and Sn as cathode because the potential electrode of Cu is bigger than Sn
10. based on the reaction:

11. The difference value of E0cell between experimental and calculation is because the gel inside salt bridge isn’t fulfilled
12. At the electrolysis experiment, anode space produce iodine smell which can be recognize as the smell of betadine
13. in the cathode space, there isn’t any color changing, but it produce much air bubble, it is H2 gas.
14. Reaction that occurs in this experiment is:



Bibliography
Brady, James. 1994. Kimia Universitas Asas dan Struktur edisi ke-5 Jilid I. Jakarta : Binaputra Aksara
Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti edisi ketiga. Jakarta: Erlangga
D.A. Skog. 1990. Analytical Chemistry: An Introduction fifth edition. Philadelphia; Saunders College Publishing
Respati. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Kimia. Jakarta: Aksara BARU.
Vogel. 1985. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. Jakarta: PT Kalman Media Pustaka.





karena ketidak-becusan blogger ngopas gambar buatan word,, jadi gambar sel voltanya ga bisa ditampilin deh....

ngetes postingan

04.05 Edit This 0 Comments »
aaaaiiiiuuuueeeeoooo....babibubebo....lalilulelo....

Pengembangan Kompetensi SDM Pendidikan

08.04 Edit This 0 Comments »
Yang dimaksud dengan SDM dalam hal ini adalah tenaga pendidik yakni kepala sekolah dan guru dan tenaga kependidikan yang meliputi pegawai tata usaha, laboran, pustakawan, teknisi dan pembantu pelaksana.

Kompetensi guru Menurut Pasal 8 UU RI No. 14 tahun 2004:

1. Kompetensi Pedagogik=> kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, sekurang-kurangnya meliputi:
a pemahaman wawasan atau landasan kependidikan,
b pemahaman terhadap peserta didik,
c pengembangan kurikulum/silabus,
d perancangan pembelajaran,
e pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis,
f pemanfaatan teknologi pembelajaran,
g evaluasi proses dan hasil belajar, dan
h pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

2. Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian sekurang-kurangnya mencakup
a. berakhlak mulia,
b. arif dan bijaksana,
c. mantap,
d. berwibawa,
e. stabil, dewasa, jujur,
b. mampu menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat,
c. secara objektif mengevaluasi kinerja sendiri, dan
d. mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.

3. Kompetensi Sosial=>kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat, sekurang-kurangnya meliputi:
a. berkomunikasi lisan, tulisan, dan/atau isyarat,
b. menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional,
c. bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang tua/wali peserta didik,
d. bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma serta sistem nilai yang berlaku, dan
e. menerapkan prinsip-prinsip persaudaraan dan semangat kebersamaan.

4. Kompetensi Profesional=> kemampuan guru dalam menguasai pengetahuan bidang ilmu, teknologi, dan/atau seni yang sekurang-kurang meliputi penguasaan:
a. materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai standar isi program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang diampunya, dan
b. konsep-konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang relevan yang secara konseptual menaungi atau koheren dengan program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang diampu.


Manajemen Sumber Daya Manusia merupakan hal yang sangat penting. Kinerja Sumber Daya Manusia memerlukan pengelolaan yang sistematis dan terarah, agar proses pencapaian tujuan organisasi dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.

Tuntutan akan upaya peningkatan kualitas pendidikan pada dasarnya berimplikasi pada perlunya sekolah mempunyai Sumber Daya Manusia pendidikan baik Pendidik maupun Sumber Daya Manusia lainnya untuk berkinerja secara optimal, dan hal ini jelas berakibat pada perlunya melakukan pengembangan Sumber Daya Manusia yang sesuai dengan tuntutan legal formal seperti kualifikasi dan kompetensi, maupun tuntutan lingkungan eksternal yang makin kompetitif di era globalisasi dewasa ini, yang menuntut kualitas Sumber Daya Manusia yang makin meningkat yang mempunyai sikap kreatif dan inovatif serta siap dalam menghadapi ketatnya persaingan.

Guna dapat menciptakan pendidikan guru yang berkualitas, berdasarkan beberapa hasil penelitian Darling-Hammond. dan Bransford (Ed.) (2005: 394) menyatakan bahwa minimal ada tiga elemen penting dalam desain program pendidikan guru yang harus diperbaiki (dibuat berbeda dengan kondisi saat ini). Ketiga elemen tersebut adalah sebagai berikut:

1. Konten pendidikan guru, berkenaan dengan materi yang harus diberikan kepada para mahasiswa, bagaimana cara memberikannya, bagaimana memadukan berbagai materi tersebut sehingga bermakna, termasuk juga bagaimana perluasannya agar mahasiswa memiliki peta kognitif yang akan membantu mereka melihat hubungan antara domain pengetahuan keguruan dengan penggunaanya secara praktis di lapangan untuk mendorong para siswanya belajar.

2. Proses pembelajaran, berkenaan dengan penyusunan kurikulum yang sejalan dengan kesiapan mahasiswa dan mendasar pada materi serta proses pembelajaran praktis yang mampu menimbulkan pemahaman mahasiswa melalui kreativitas aktifnya dalam kelas.

3. Konteks pembelajaran, yang berkenaan dengan penciptaan proses pembelajaran kontekstual guna mengembangkan keahlian praktis mahasiswa. Konteks pembelajaran ini harus diterapkan baik dalam domain-domain materi ajar maupun melalui pembelajaran di komunitas professional (sekolah).


Minimal ada lima kapabilitas yang harus terus menerus dibangun guru dalam rangka mengembangkan kualitasnya (Darling-Hammond. et.al. ,1999; Nicholss, G., 2002, dan Lang dan Evans, 2006). Kelima kapabilitas tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.

1. konten pengetahuan yang ia ajarkan. Kapabilitas ini berhubungan dengan:
>kemampuan guru untuk terus mengembangkan dirinya dengan meningkatkan penguasaan konten pengetahuan secara terus menerus sehingga pengetahuan yang dimilikinya akan senantiasa berkembang dan up-to-date.
>kemampuan guru dalam memahami kurikulum yang berlaku sehingga proses pembelajaran yang dilaksanakannya benar-benar berorientasi pada kurikulum terbaru.
>kemampuan guru untuk senantiasa berpikir kritis memaknai setiap materi ajar sehingga akan mampu memperluas pengetahuan siswa dan bahwa mampu merestrukturisasi pengetahuan agar sejalan dengan potensi dan kebutuhan siswa.
Melalui pembangunan kapabilitas ini jelaslah sosok guru yang berkualitas bukanlah sebuah impian belaka.

2. tingkat konseptualisasi. Kapabilitas ini berhubungan dengan:
> kemampuan guru untuk mengidentifikasi wilayah pengembangan dirinya sehingga guru akan mampu secara terus menerus meningkatkan kompetensi yang dimilikinya.
> kemampuan guru dalam menerapkan konsep dan ide-ide kreatifnya dalam setiap proses pembelajaran.
> kemampuan guru untuk membuat desain rencana pengembangan professional dirinya secara tepat guru dan berhasil guna. Melalui desain rencana pengembangan professional yang dibuat guru, guru akan mampu merencanakan berbagai aktivitas pengembangan diri sehingga mitos guru adalah individu statis akan tertepiskan.

3. kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Guru yang kapabel adalah guru yang senantiasa memilih pendekatan, model, metode, dan teknik pembelajaran yang tepat sesuai materi dan karakteristik siswa. Melalui pemilihan strategi pembelajaran yang tepat inilah guru lebih jauh diharapkan mampu mengelola kelas sehingga berbagai tujuan pembelajaran yang ditetapkan akan tercapai. Sejalan dengan kenyataan ini, guru harus secara berkesinambungan meningkatkan pengetahuannya tentang berbagai strategi pembelajaran terkini sehingga guru tidak hanya terpaku menggunakan satu jenis strategi pembelajaran.

4. komunikasi interpersonal. Kapabilitas ini berhubungan dengan ;
> kemampuan guru dalam menjalin komunikasi dengan siswa sehingga guru akan benar-benar memahami karakteristik siswa dan mengetahui kebutuhan siswa.
> kemampuan guru berkomunikasi dengan seluruh unsur sekolah dan orang tua siswa. Melalui berbagai jenis komunikasi ini guru diharapkan mampu memainkan peran pentingnya dalam mencetak lulusan yang unggul.

5. ego. Kapabilitas ini berhubungan dengan usaha mengetahui diri sendiri dan usaha membangun responsibilitas diri terhadap lingkungan. Hal ini berarti guru yang kapabel adalah guru yang memperhatikan diri sendiri dan orang lain, merespons positif segala bentuk masukan yang dia terima, bersikap objektif, membantu orang lain untuk berkembang, berpikir positif, dan senantiasa meningkatan self esteem. Melalui pembangunan kapabilitas kelima ini diharapkan guru akan mampu merefleksi diri sehingga kompetensinya akan senantiasa berkembang.
Berbagai kapabilitas yang telah dikemukakan tersebut pada prinsipnya merupakan wilayah pengembangan guru yang harus secara terus-menerus dikembangkan. Melalui kepemilikan dan pengembangan kelima kapabilitas tersebut, guru akan mampu memiliki kemampuan teknis dalam melaksanakan pembelajaran, kemampuan mengambil keputusan, dan kemampuan merefleksi kritis kinerjanya sebagai wujud nyata sosok guru yang berkualitas.


Darling-Hammond. (Ed.).1999. Teaching as the Learning Profession. San Francisco: Jossey-Bass Publishing.
Darling-Hammond. et.al. 1999 License to Teach. San Francisco: Jossey-Bass Publishing.
Darling-Hammond. dan Bransford (Ed.).2005. Preparing Teachers for a Changing World. San Francisco: Jossey-Bass Publishing.
Darling-Hammond. Et.al. 2006. Powerful Teacher Education. San Francisco: Jossey-Bass Publishing.
Lang dan Evans. 2006. Models, Strategies, and Methods for Effective Teaching. Boston: Pearson.
Nicholss, G. 2002. Learning to Teach. Great Britain: Kogan Page Limited.
Reece dan Walker. 2004. Teaching, Training, and Learning. Great Britain: Business Education Publishing Limited.